Friday, 06 March 2009
Bismillahirrahmanirrahim
freepalestinelogo

Saya sampaikan selamat datang kapada Anda sekalian, tamu-tamu yang terhormat, para ulama, pemikir, ‎politikus dan para mujahid yang datang ke Republik Islam Iran guna menghadiri konferensi keempat solidaritas ‎Palestina.‎

Dalam jangka waktu antara konferensi ini dengan konferensi yang lalu yang digelar tanggal 15-17 Rabiul Awwal ‎‎1427 hijriyyah di Tehran, terjadi banyak peristiwa penting dan menentukan yang telah membuat ufuk masa ‎depan isu Palestina semakin terang dan tugas kita terkait masalah yang hingga kini tetap menjadi isu pertama ‎Dunia Islam ini juga semakin jelas. ‎

Diantara peristiwa penting itu adalah kekalahan militer dan politik mencengangkan yang diderita Israel dalam ‎menghadapi moqawamah Islam pada perang 33 hari di Lebanon tahun 1427 hijriyah dan kekandasan ‎memalukan rezim zionis Israel pada perang kejamnya selama 22 hari terhadap rakyat dan pemerintahan legal ‎Palestina di Gaza.‎

Rezim penjajah [Israel] yang dalam beberapa dekade tampil garang dan seakan tak terkalahkan dengan ‎kekuatan perang dan persenjataan yang didukung penuh secara militer dan politik oleh AS, kini terbukti lemah ‎dan dua kali menelan kekalahan menghadapi gerakan perlawanan moqawamah yang dalam berperang lebih ‎mengandalkan tawakkal kepada Allah dan kekuatan rakyat daripada kekuatan senjata dan logistik. Meski ‎memiliki pasukan yang terlatih dan siap secara militer, dibantu dengan badan-badan intelijennya yang luas dan ‎besar serta adanya dukungan penuh AS, sejumlah negara Barat dan para munafikin di tengah Dunia Islam, ‎rezim Zionis nampak kerdil di hadapan arus kuat kebangkitan Islam. Israel sedang bergerak menuju jurang ‎kehancuran.‎

Dari sisi lain, kejahatan besar dan bersejarah yang dilakukan oleh orang-orang zionis, pembantaian warga sipil ‎dalam skala luas, penghancuran rumah orang-orang yang tak berdaya, dada anak-anak bayi yang dikoyak ‎peluru, sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang dibombardir, penggunaan bom-bom fosfor dan senjata ‎terlarang lainnya, penutupan pintu masuknya suplai makanan, obat-obatan, bahan bakar dan kebutuhan primer ‎lainnya bagi rakyat selama dua tahun terakhir, dan banyak kejahatan lainnya, semua itu menunjukkan bahwa ‎perangai bengis dan tabiat kejahatan para pemimpin rezim ilegal Zionis saat ini tidak berbeda dengan tabiat ‎mereka beberapa dekade silam di awal penderitaan bangsa Palestina. Kebijakan, tabiat yang buas, kebengisan ‎yang pernah mereka tunjukkan dalam tragedi Deir Yassin serta Sabra dan Shatila, hari ini tetap ada di lembaran ‎kelam pikiran dan hati mereka, thaghut-thaghut zaman ini. Hanyasaja hari ini berkat kemajuan teknologi, ‎lingkup kejahatan mereka lebih luas dan lebih dahsyat.‎

Mereka yang beranggapan bahwa rezim zionis tidak terkalahkan dengan mengangkat slogan ‘berpikir faktual’ ‎telah mengulurkan tangan persahabatan dan kepasrahan kepada para perampok itu. Baik mereka maupun ‎orang-orang yang berharap bisa hidup secara damai dengan orang-orang zionis dan beranggapan bahwa ‎generasi kedua dan ketiga zionis tidak memikul dosa yang dilakukan oleh generasi pertamanya, mereka ‎seharusnya sudah bisa menyadari kesalahannya. Pertama; dengan gelombang kesadaran umat Islam dan ‎tumbuhnya tunas-tunas moqawamah Islam, kedigdayaan palsu itu telah runtuh dan bukti-bukti kelemahan dan ‎kebuntuan rezim penjajah zionis telah terkuak. Kedua; tabiat kebuasan dan rasa tidak malu untuk melakukan ‎kejahatan sudah ada pada diri para pemimpin rezim itu sejak dekade-dekade pertama. Kapan saja mau atau ‎merasa bisa, mereka siap melakukan kejahatan apapun. ‎

Kini, 60 tahun telah berlalu dari pendudukan negeri Palestina. Selama ini, segala sarana dan fasilitas kekuatan ‎dan materi ada di tangan para perampok itu. Dari mulai uang, senjata, dan teknologi sampai upaya politik dan ‎diplomasi juga jaringan media dan imperium pemberitaan dan informasi, semuanya ada di tangan mereka. ‎

Dengan adanya seluruh kinerja ala syaitan itu yang dilakukan dalam skala luas dan mencengangkan, para ‎penjajah dan pendukung mereka tetap tak mampu melegalkan eksistensi rezim zionis. Dengan berlalunya waktu, ‎masalah ini bahkan semakin pelik dan rumit.‎

Salah satu bukti kegamangan ini adalah sikap media-media Barat dan zionis serta rezim-rezim pembela zionisme ‎yang tak bisa bertoleransi meski hanya terhadap satu pertanyaan atau penelitian tentang Holocaust yang telah ‎mereka jadikan alasan untuk merampas negeri Palestina. Lembaran sejarah rezim zionis yang hitam kini ‎semakin pekat di mata opini dunia, dan pertanyaan tentang alasan pembentukan rezim inipun semakin ‎mengemuka. ‎

Aksi protes yang terjadi secara massal dan spontan di dunia, mulai dari Asia timur sampai Amerika Latin yang ‎mengecam rezim itu adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di 120 negara termasuk di Eropa, bahkan ‎di Inggris yang membidani kelahiran rezim penjahat ini, masyarakat menggelar aksi demo secara besar-besaran. ‎Dukungan yang mereka nyatakan kepada moqawamah Islam di Gaza dan moqawamah Islam di Lebanon dalam ‎perang 33 hari adalah bukti bahwa kini telah lahir sebuah fenomena baru bernama perlawanan dunia terhadap ‎zionisme, yang dalam 60 tahun terakhir tidak seluas dan sebesar ini. Bisa dikatakan bahwa moqawamah Islam ‎di Lebanon dan Palestina berhasil menyentak dan menyadarkan hati nurani dunia.‎

Ini adalah pelajaran yang besar bagi musuh-musuh umat Islam yang dengan kekerasan dan penumpasan, ‎hendak memaksakan keberadaan sebuah rezim dan bangsa palsu dan ilegal dengan beranggapan bahwa ‎berlalunya waktu akan membuat proyek ini menjadi fenomena yang tak terbantahkan lagi dan pemaksaan yang ‎kejam ini bakal berubah menjadi hal yang alamiah. Hal ini juga menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam ‎khususnya generasi muda yang punya harga diri dan hati nurani yang sadar bahwa jihad dan perjuangan untuk ‎merebut kembali hak-hak yang terampas tidak akan pernah sia-sia dan benar janji Allah SWT ketika berfirman:‎

أُذِنَ لِلَّذِينَ‎ ‎يُقاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَ إِنَّ اللَّهَ عَلى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ‎. ‎الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَنْ يَقُولُوا‎ ‎رَبُّنَا اللَّهُ وَ لَوْ لا ‏دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ‎ ‎لَهُدِّمَتْ صَوامِعُ وَ بِيَعٌ وَ صَلَواتٌ وَ مَساجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ‎ ‎اللَّهِ كَثِيراً وَ لَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ ‏اللَّهَ‎ ‎لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ‎. ‎
Telah diizinkan kepada mereka yang berperang karena mereka dizalimi dan sesungguhnya Allah Maha Mampu ‎untuk memberikankan pertolonganNya kepada mereka. [yaitu] orang-orang yang terusir dari kampung halaman ‎mereka tanpa alasan yang benar kecuali hanya karena mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’. Dan ‎sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain tentulah telah ‎dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid, yang di ‎dalamnya banyak disebut nama Allah. Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-‎Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Q. S Al-Hajj: 39-40)‎

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعادَ
Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji. (Q.S. Aal Imran: 9)‎

firmanNya yang lain:‎

وَ لَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ
Dan sekali-kali Allah tidak akan mengingkari janjiNya. (Q.S. Al-Hajj: 47)‎

Dia berfirman pula:‎

وَعْدَ اللَّهِ لا يُخْلِفُ‎ ‎اللَّهُ وَعْدَهُ وَ لكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Itulah janji Allah. Allah tidak mengingkari janjiNya. Akan tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui. (Q.S. ‎Ar-Rum: 6)‎

Allah SWT berfirman:‎

فَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو‎ ‎انتِقامٍ
Dan jangan sekali-kali engkau mengira Allah mengingkari janji yang Dia berikan kepada rasul-rasulNya. ‎Sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Pemilik Pembalasan. (Q. S. Ibrahim: 47)‎

Janji manakah yang lebih jelas dari janji Ilahi ini kala Dia berfirman:‎

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ‎ ‎آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِی الْأَرْضِ‎ ‎كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ‎ ‎الَّذِی ارْتَضى لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً‎ ‎يَعْبُدُونَنِی لا يُشْرِكُونَ بِی شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ‎ ‎هُمُ الْفاسِقُونَ‎.‎
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang ‎saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah ‎menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka ‎agama yang telah Dia redhai untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah ‎mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada ‎mempersekutukan apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah janji itu maka merekalah orang-‎orang yang fasik. (Q.S. Al-Nur: 55) ‎

Adalah satu paralogisme besar dalam masalah Palestina yang sengaja ditebar di pikiran adalah bahwa Israel ‎adalah nama sebuah negara yang eksis sejak enam puluh tahun yang lalu dan kenyataan ini harus diterima apa ‎adanya. Saya tidak tahu mengapa mereka tidak mau mengambil pelajaran dari fakta lain yang ada di hadapan ‎mereka. Bukankah negara-negara Balkan, Kaukasus dan Asia barat daya berhasil memperoleh kembali identitas ‎asli mereka yang telah terampas 80 tahun lamanya di bawah bayang-bayang kekuasaan bekas Uni Soviet? ‎Mengapa isu Palestina yang merupakan bagian dari tubuh dunia Islam tidak boleh memperoleh kembali ‎jatidirinya sebagai negeri Islam dan Arab? Dan mengapa pemuda-pemuda Palestina yang tergolong pemuda ‎Arab yang paling cerdas dan paling resisten tidak diperkenankan membalik fenomena kejam yang ada saat ini?‎

Paralogisme besar lainnya adalah klaim yang menyebutkan bahwa solusi satu-satunya bagi keselamatan bangsa ‎Palestina adalah jalur perundingan. Perundingan dengan siapa? Dengan rezim perampas, pendusta dan sesat ‎yang hanya mengenal kekerasan tanpa pernah mengindahkan aturan apapun? Apa yang selama ini didapat oleh ‎mereka yang merasa nyaman dengan permainan ini dan senang dininabobokan dengan tipuan ini? Terlepas dari ‎kehinaan dan pelecehan yang ada, apa yang disebut dengan nama pemerintahan otonomi yang didapat dari ‎orang-orang Zionis sebenarnya didapat dengan harga yang sangat mahal, harga pengakuan akan hak ‎kepemilihan Israel atas hampir seluruh wilayah negeri Palestina. Kedua, pemerintahan yang lemah dan ringkih ‎ini dalam banyak kasus menjadi sasaran penistaan dan pelanggaran hanya karena alasan sepele. Dulu Yasser ‎Arafat pernah diisolasi di kantornya di Ramallah, belum lagi berbagai macam pelecehan dan penistaan yang ‎tidak mungkin terlupakan.‎

Ketiga, di zaman Arafat dan khususnya di zaman setelahnya, rezim zionis memperlakukan pemerintahan otoritas ‎Palestina layaknya polisi mereka yang bertugas mengejar dan menangkap para pejuang Palestina dan ‎mengepung mereka dengan barikade intelijen dan kepolisian. Dengan demikian, mereka menanamkan benih-‎benih permusuhan di tengah faksi-faksi Palestina dan mengadu domba diantara mereka.‎

Keempat, hal kecil yang mereka peroleh itu tidak didapat kecuali karena jihad dan perlawanan patriotik warga ‎Palestina, laki-laki dan perempuan, yang pantang menyerah. Jika tidak ada intifadah, meski para pemimpin ‎tradisional Palestina sudah berulang kali rela melepaskan haknya sedikit demi sedikit, rezim zionis tidak akan ‎pernah bersedia memberikan hak sekecil inipun.‎

‎[Atau mungkin] berunding dengan AS dan Inggris yang telah melakukan dosa terbesar dengan menciptakan ‎kanker ganas ini dan mendukungnya. Mereka bukan penengah, tetapi pihak yang terlibat dalam sengketa. ‎Rezim AS tidak pernah menghentikan dukungan penuh dan tanpa syaratnya kepada rezim zionis, tak terkecuali ‎di saat rezim Zionis terang-terangan melakukan tindak kejahatan seperti yang terjadi baru-baru ini di Gaza. ‎

Bahkan Presiden baru AS yang meraih kursi kekuasaan berkat slogan janji perubahan pada kebijakan ‎pemerintahan George W. Bush, kini mengulangi cara dan menempuh jalan yang sama dengan Bush. Ia ‎menyatakan dukungan mutlaknya untuk keamanan Israel. Artinya ia mengumumkan dukungannya kepada ‎terorisme negara, kepada kekejaman dan despotisme, kepada pembantaian massal ratusan laki-laki dan ‎perempuan Palestina selama 22 hari. Ini tak lain adalah pengulangan gaya Bush, tak kurang dari itu.‎

Berunding dengan lembaga-lembaga di bawah payung Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga tidak akan ‎membuahkan hasil apapun. PBB mungkin tidak banyak menghadapi ujian seperti isu Palestina yang bisa ‎mempermalukannya. Satu hari pendudukan Palestina oleh kelompok teroris zionis langsung direaksi dengan ‎cepat oleh Dewan Keamanan dengan mengakui hak zionis atasnya. Dewan Keamanan telah memainkan peran ‎kunci bagi munculnya dan berlanjutnya kekejaman bersejarah ini. Setelah itu, sepanjang beberapa dekade ‎dengan sikap bungkamnya, Dewan Keamanan merelakan terjadinya pembantaian massal, pengusiran, kejahatan ‎perang dan berbagai kekejaman lain yang dilakukan oleh rezim ini. Bahkan ketika Majlis Umum PBB ‎mengesahkan resolusi yang menyebut rezim zionis Israel sebagai rezim rasis, Dewan Keamanan bukan hanya ‎tidak berjalan seiring dengan suara Majlis Umum tetapi malah mengambil sikap yang 180 derajat berlawanan ‎dengannya. Negara-negara arogan yang memiliki keanggotaan tetap di Dewan Keamanan memanfaatkan ‎dewan dunia ini layaknya alat untuk kepentingan mereka.‎

Hasilnya, Dewan ini bukan hanya tak membantu tegaknya keamanan di dunia, malah menggunakan jargon-‎jargon seperti hak asasi manusia atau demokrasi dan semisalnya sebagai alat kerakusan untuk memperluas ‎kekuasaan. Dengan jargon-jargon itulah dewan ini mengemas kebohongan dan tipu dayanya. ‎

Keselamatan Palestina tidak akan pernah didapat dengan berharap kepada PBB atau kekuatan adi daya atau ‎lebih dari itu, rezim panjajah zionis. Keselamatan Palestina hanya bisa diperoleh lewat presistensi dan ‎moqawamah. Dengan persatuan bangsa Palestina dan ketauhidan yang merupakan khazanah gerakan jihad ‎yang tak akan pernah berakhir.‎

Tonggak bagi moqawamah ini, dari satu sisi adalah faksi-faksi pejuang Palestina dan seluruh rakyat Palestina ‎yang pejuang dan mukmin baik di dalam maupun di luar negeri Palestina, sementara di sisi lain, tonggak ‎moqawamah itu adalah negara-negara dan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia, khususnya para ulama dan ‎tokoh agama, kaum cendekiawan, tokoh politik dan figur perguruan tinggi. Jika dua tonggak ini berdiri tegak di ‎suatu tempat, tak diragukan lagi nurani yang sadar, hati dan akal pemikiran yang tidak tercemari oleh ‎propaganda pemberitaan media raksasa milik kekuatan arogansi dan zionisme, yang berada di seluruh penjuru ‎dunia pasti akan bergegas memenuhi panggilan orang-orang tertindas yang meminta pertolongan. Saat itulah, ‎mesin-mesin arogansi harus berhadap-hadapan dengan badai pemikiran, emosi dan dan tindakan. Kita sudah ‎menyaksikan contoh dari hakikat itu di hari-hari terakhir moqawamah Gaza yang spektakuler. Tangisan direktur ‎sebuah badan bantuan internasional yang berasal dari salah satu negara Barat di depan kamera media massa ‎dunia telah mendorong para aktivis lembaga-lembaga kemanusiaan untuk menggelar demonstrasi besar penuh ‎khidmat di jantung ibukota Eropa dan kota-kota besar di Amerika. Tindakan berani yang dilakukan oleh ‎pemimpin sejumlah negara di Amerika Latin dan hal-hal lain yang telah terjadi menunjukkan bahwa Dunia non ‎Muslim tidak sepenuhnya jatuh ke tangan kelompok jahat -yang dalam terminologi Al-Qur’an biasa disebut ‎dengan nama syeitan-. Masih ada tempat bagi munculnya kebenaran di sana. ‎

Iya, moqawamah (resistensi) dan kesabaran para pejuang dan rakyat Palestina serta bantuan dan dukungan ‎penuh dari seluruh negara Islam kepada mereka akan menghancurkan mitos kedigdayaan rezim pendudukan di ‎Palestina. Energi dahsyat yang dimiliki oleh umat ini dapat mengatasi seluruh masalah Dunia Islam termasuk ‎masalah Palestina yang merupakan masalah paling serius dan mendesak.‎

Kini kepada Anda sekalian, saudara dan saudari Muslim-ku di seluruh dunia, juga kepada mereka yang memiliki ‎hati nurani yang sadar di negara manapun dan dari bangsa apapun, saya katakan, upayakan dengan sungguh-‎sungguh untuk menghancurkan mitos kekebalan hukum bagi orang-orang zionis yang melakukan tindak ‎kejahatan. Seretlah para pemimpin politik dan militer rezim penjajah zionis ke meja pengadilan sampai mereka ‎menerima hukuman yang setimpal sesuai dengan prinsip keadilan dan logika. Ini adalah langkah awal yang ‎mesti dilakukan. Para pemimpin politik dan militer zionis harus diadili. Jika terbukti bersalah mereka harus ‎dihukum. Dengan demikian orang-orang yang gila kejahatan akan jera melakukan tindak kriminal. Membiarkan ‎para pelaku kejahatan besar bebas justeru akan mendorong mereka melakukan kejahatan yang lain. ‎

Jika dulu setelah berakhirnya perang 33 hari di Lebanon dan tragedi luas yang ditimbulkannya, umat Islam ‎secara serius menuntut pengadilan terhadap orang-orang zionis yang telah menciptakan tragedi ini; jika setelah ‎peristiwa pembantaian rombongan pengantin di Afganistan atau setelah terjadinya pembunuhan yang ‎melibatkan pasukan bayaran Black Water di Irak, juga setelah terbongkarnya skandal penjara Abu Ghraib yang ‎melibatkan tentara AS, jika setelah itu terjadi, umat Islam serius menuntut pengadilan atas para pelaku ‎kejahatan, tentu hari ini kita tidak akan pernah menyaksikan peristiwa Karbala yang lain di Gaza. Kita, negara ‎dan bangsa-bangsa Muslim tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dipikulkan akal dan prinsip ‎keadilan pada pundak kita dengan semestinya. Akibatnya kita menyaksikan apa yang kita saksikan hari ini.‎

Amat disayangkan bahwa sebagian pemerintahan dan politikus dunia sudah sangat asing dengan aturan etika ‎dan hukum nurani kemanusiaan. Bagi mereka, pembunuhan 1350 orang dan terlukanya sekitar 5500 orang ‎warga sipil yang tak berdosa bahkan banyak diantaranya adalah anak kecil, pada perang 22 hari di Gaza ‎bukanlah hal yang bisa mengusik emosi mereka. Para pelaku kejahatan bukan hanya tak terkena jerat hukum ‎malah mereka diberi penghargaan dan hadiah. Keamanan rezim haus darah ini dipandang sebagai hal sakral ‎yang harus dibela habis-habisan. Sedangkan pihak tertindas, baik pemerintahan yang lahir dari suara rakyat ‎secara mutlak maupun rakyat yang mendudukkan pemerintahan itu di tampuk kekuasaan, semuanya menjadi ‎pihak tertuduh dan tergugat. Inilah aturan peradilan politik yang tidak sejalan dengan etika, nurani dan budi ‎pekerti. Rezim-rezim seperti ini ketika menyaksikan kebencian luas opini umum terhadap diri mereka, bukan ‎mencari penyebab kebencian itu tetapi malah bermain-main politik dan perputaran yang tidak benar inipun terus ‎bergulir. ‎

Saudara dan saudariku yang mulia di seluruh penjuru Dunia Islam!‎
Ambillah pelajaran dari pengalaman yang ada. Hari ini, berkat kebangkitan Islam, umat kita yang besar ini ‎memiliki kekuatan yang sangat besar. Kunci untuk mengurai berbagai masalah yang menimpa negara-negara ‎Islam hanya ada pada keuletan dan persatuan komunitas yang besar ini. Masalah Palestina adalah masalah ‎yang paling mendesak bagi Dunia Islam.‎

Kadang kala terdengar suara yang menganggap isu Palestina sebagai masalah dunia Arab. Apa arti dari ‎ungkapan itu? Jika yang dimaksudkan adalah untuk memancing emosi Dunia Arab supaya lebih besar demi ‎membela dan memperjuangkan masalah Palestina, hal itu tentu layak dipuji dan kami patut memberinya ucapan ‎selamat. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah mempersoalkan pihak lain yang terpanggil oleh seruan ‎nurani sehingga bergerak membantu lalu pihak ini dipersoalkan dengan mengatakan ‘mengapa kalian ‎membantu Gaza’, jika ini yang dimaksudkan -sementara para pemimpin sejumlah negara Arab sedikitpun tidak ‎peduli dengan seruan permintaan tolong ‘Ya lalmuslimin’ (Wahai umat Islam) dan dalam isu penting seperti ‎tragedi Gaza justeru bekerjasama dengan musuh perampas dan kejam-, maka tak ada satu pun orang Muslim ‎atau Arab yang masih memiliki harga diri dan hati nurani bisa menerima ungkapan seperti itu dan tak ada pula ‎yang tidak mengecam orang yang mengatakan hal itu. Ini adalah logika Akhzam yang dikisahkan memukuli ‎ayahnya sendiri dan ketika ada orang yang ikut campur ia akan menghardiknya. Setelah ia, anaknya mengikuti ‎jejak sang ayah dan memukuli kakeknya sendiri. Inilah yang dalam peribahasa Arab dinyatakan;‎

ان بنی رملونی بالدم شنشنة اعرفها من اخزم

Membantu rakyat Palestina sepenuhnya dan mendukung mereka adalah kewajiban fardlu kifayah bagi seluruh ‎umat Islam. Negara-negara yang mempermasalahkan Iran dan sejumlah negara Muslim lainnya karena ‎menolong rakyat Palestina, sebaiknya mereka bangkit menolong rakyat Palestina sehingga kewajiban fardlu ‎kifayah ini tidak lagi menjadi tanggungan orang lain. Namun jika mereka tidak memiliki kemauan dan ‎keberanian untuk melakukan hal itu, setidaknya mereka bisa mendukung langkah orang yang merasa ‎bertanggung jawab dan berani melakukannya, jangan malah menjadi batu ganjalan.‎

Para hadirin yang terhormat!‎
Kalian semua telah hadir di konferensi ini. Terkait masalah Palestina, kalian tentunya cukup ahli dan punya ‎pandangan. Tugas historis kita semua hari ini bukan lagi mengulang kata-kata dan teori lama yang telah ‎terbukti gagal. Yang diperlukan adalah prakarsa baru untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman dan ‎kezaliman rezim zionis. Kami mengusulkan sebuah mekanisme yang sepenuhnya sejalan dengan prinsip ‎demokrasi dan diterima oleh opini dunia, yaitu menggelar referendum yang diikuti oleh semua orang yang ‎memiliki hak atas negeri Palestina, baik yang beragama Islam, Kristen atau Yahudi, termasuk juga orang-orang ‎Palestina yang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan yang berat sebagai pengungsi. Lewat referendum ‎mereka dapat menentukan model sistem kenegaraan yang mereka inginkan.‎

Dunia Barat harus sadar bahwa menolak prakarsa ini berarti tidak konsekwen dengan prinsip demokrasi yang ‎selalu didengungkannya, dan ini adalah evaluasi lain untuk mengungkap kebohongan mereka. Sebelum ini ‎mereka telah diuji lewat isu Palestina, dan hasilnya mereka tidak bersedia mengakui pemerintahan Hamas yang ‎dibentuk lewat perolehan suara pada pemilihan umum yang diselenggarakan serentak di Tepi Barat dan Jalur ‎Gaza. Mereka hanya mau menerima demokrasi jika hasilnya sesuai dengan kemauan mereka. Mereka inilah ‎kelompok yang haus perang dan pembuat onar. Jika mereka mengaku suka perdamaian maka sebenarnya ‎pengakuan itu tak lebih dari dusta dan kebohongan.‎

Saat ini masalah yang paling mendesak terkait isu Palestina adalah program rekonstruksi Gaza. Pemerintahan ‎Hamas yang dibentuk berkat suara mayoritas rakyat Palestina dan telah menunjukkan patriotisme ‎perjuangannya dengan mengalahkan rezim zionis, kini sedang berada di puncak kegemilangan dalam sejarah ‎‎100 tahun terakhir negeri Palestina. Karena itu Hamas harus menjadi poros dalam seluruh program rekonstruksi ‎ini. Karena itu, saudara-saudara kita di Mesir diharapkan untuk membuka jalan sehingga seluruh negara dan ‎bangsa-bangsa Muslim bisa melaksanakan kewajiban mereka dalam masalah yang penting ini.‎

Di akhir pembicaraan ini saya mengucapkan salam sejahtera kepada para syuhada perang 22 hari yang telah ‎mengubah kucuran darah mereka di Gaza menjadi kehormatan bagi Islam dan Arab. Saya berdoa semoga ‎mereka mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Saya menyampaikan pula salam sejahtera kepada para ‎syuhada Palestina, Lebanon, Irak, Afganistan dan seluruh syuhada Islam dan kepada arwah pemimpin kami, ‎Imam Khomeini. Kepada Allah SWT saya memohon kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, dan semoga hati ‎umat Islam semakin dekat satu dengan yang lain dan dunia Islam semakin hari semakin menemukan ‎kesadarannya.‎

Wassalam’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu