Sekelompok keturunan mulia dari Bani Hasyim dan Abdul Mutholib beserta para budak mereka hidup dalam suatu negara terpencil dalam keadaan fakir dan miskin. Hak mereka yang berupa: khumusul khumus (seperlima khumus) dari baitul mal atau masholih (pemberian-pemberian dengan pertimbangan kemaslahatan) yang dapat mencukupi kehidupan mereka hingga mereka tidak perlu meminta-minta, tidak tersalurkan, karena, disamping mereka hidup terpencil (khumul), mereka juga dilarang untuk menerima sodaqoh.

Pertanyaan:

Andaikata mereka meminta zakat kepada orang-orang kaya yang hidup di negeri mereka guna mencukupi kebutuhan diri dan keluarga mereka, bolehkah para hartawan tersebut memberinya?

Jawab:

Secara umum, pendapat yang masyhur dalam Madzhab Syafi’i tidak membolehkan. Namun Imam Abu Said Al-Harawi, seorang hakim, membolehkannya dengan syarat bahwa mereka tidak memperoleh bagian dari khumûsul khumûs, tetapi, jika mereka menerimanya, maka pemberian zakat itu tidak dibolehkan. Imam Muhammad bin Muhammad bin Yahya dan Al-Allamah Fakhuruddin Ar-Razi memfatwakan hal yang sama, dan menurut Abu Syukail fatwa tersebut benar.

Dalam kitab Al-Khodim, setelah membawakan pendapat Imam Rafi’i dalam masalah ini, Imam Zarkasyi menjelaskan bahwa Imam Isthokhori, Harawi, dan Ibnu Yahya membolehkan (penerj. mereka menerima zakat). Masalah ini juga dibahas dalam kitab Al-Hilyah yang ditulis As-Syasyi.

Abu Hafs Naru Sami mengatakan bahwa zakat boleh diberikan kepada orang yang juga berhak memperoleh bagian dari harta rampasan perang dan fai. Dikatakan dalam cacatan kaki Ibnu Abi Hurairah, “Adapun pada masa ini, mereka (penerj. Bani Hasyim dan Abdul Muttholib) tidak memperoleh bagian dari harta rampasan perang, jadi, kita tidak boleh melarang mereka menerima zakat, karena larangan itu akan menyebabkan mereka hidup terlantar, sebab, di zaman ini, mereka dan kaum fakir miskin menghadapi persoalan sama. Jadi, mereka juga berhak memperoleh bagian dari zakat sebagaimana kaum fakir miskin.”

As-Syarif Abdul Abbas Al-Farra’, dalam kitabnya Mu’tamadut Tanbih, menuliskan bahwa seseorang yang telah menghadiri majlis Imam Fakhruddin Ar-Razi di salah satu negeri di Khurasan atau Khawarizm menceritakan kepadanya bahwa sekelompok Alawiyin mengeluh karena tidak menerima hak mereka dari baitul mal, sedangkan mereka dalam keadaan terpaksa, kemudian Imam Fakhruddin Ar-Razi memberi mereka lebih kurang 100 dinar, dan berkata, “Wahai kaum muslimin, aku telah berfatwa agar kalian memberikan sodaqoh (penerj. wajib) kalian kepada mereka, karena sesungguhnya harta itu halal bagi mereka dan kewajiban kalian pun akan tertunaikan.

Dalam kitab Al-Khodim dikatakan bahwa mereka adalah para imam yang berkedudukan tinggi dan dalil mereka cukup kuat. Ibnu Nahwi, dalam kitabnya Al-‘Ajalah, dan Al-Hakim mengutip pendapat Abbas bin Abdul Mutholib bahwa Bani Hasyim dan Abdul Muttholib boleh memberikan zakat mereka kepada sesama mereka. Dalam syarhku, aku telah menjelaskan masalah ini secara panjang lebar. Wallôhu A’lam.

Pendapat Ulama Lain

Dalam kitab Fathul Ilâhil Mannan, Alam makrifah, Jeddah, cet. ke-1, thn. 1988M/1408 H, hal. 59, sehubungan dengan jawaban Syekh Salim bin Said Bukair Baa Ghaitsan yang membolehkan ahli bait rasulillah menerima zakat jika mereka tidak mendapat bagian dari khumus, Sayid Al-Allamah Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syeik Abubakar bin Salim menulis surat kepadanya, yang isinya: “Alhamdulillah, wa ba’du, jawaban yang telah ditulis oleh Al-Allamah Syekh Salim bin Said adalah sangat benar, dan berbagai dalil yang ia kemukakan dari para imam yang sangat alim, cukup kuat. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan.”

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, Dar el Fikr, hal 106, yang berisi fatwa Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husin bin Umar Al-Masyhur, mufti Hadramaut, disebutkan “Jumhur ulama syafii’yah sepakat untuk melarang seseorang memberikan zakat kepada ahli bait nabi …….. (sampai) pendapat ini yang paling sahih, tapi banyak para ulama dari Madzhab Syafii’yah baik yang dahulu maupun yang datang kemudian membolehkannya jika khumusul khumus tidak sampai kepada mereka.

Di antara para ulama tersebut adalah: Isthokhori, Harawi, Ibnu Yahya, dan Ibnu Abu Hurairah. Dan mereka yang memfatwakan dan mengamalkan fatwanya adalah Fakhrur Razi, Qadhi Husin, Ibnu Syukail, Ibnu Ziyad, Nasyiri, dan Ibnu Muthir. Al-Asykhor mengatakan bahwa mereka yang disebutkan di atas adalah para imam yang agung, ucapannya mempunyai dasar yang kuat, mereka boleh diikuti, dan taklidnya itu terhitung sebagai taklid yang sahih dengan syarat untuk keadaan darurat.

Catatan:

Khumus: seperlima dari harta rampasan perang (ghanimah). Harta yang disisihkan tersebut dibagikan kepada:

  1. Rasulullah,
  2. Kerabat beliau dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib,
  3. Anak yatim,
  4. Kaum fakir miskin, dan
  5. Ibnu Sabil.

(Demikianlah pendapat yang masyhur mengenai khumus menurut Fakhrur Razi dalam Tafsir Al-Kabir, juz 15, hal. 165)

Hadis2 yg berkait dgn pengharaman zakat kepada ahli keluarga Nabi s.a.w:

1. Nabi s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya zakat tidak halal bagi Muhammad dan tidak halal bagi keluarganya. Sesungguhnya zakat adalah daki2 manusia.”(Hr Muslim dan Ahmad)

2. Nabi s.a.w bersabda:

“Dan sesungguhnya kami ahli bait tidak halal memakan harta zakat.”(Hr Abu Daud)

3. Abu Hurairah berkata:

“Hasan bin Ali r.a (ketika masih budak lagi) mengambil sebiji tamar zakat, lalu dia memasukkannya ke dalam mulutnya. Nabi s.a.w pun bersabda “Keh keh” supaya dia mengeluarkan semula tamar itu. Kemudian Nabi s.a.w bersabda “Adakah kamu tidak tahu kita tidak boleh memakan harta zakat.”(Hr Bukhari dan Muslim)

Siapakah mereka keluarga Muhammad s.a.w?

Terdapat pelbagai pendapat dlm perkara ini seperti berikut:

1. Mereka adalah Banu hashim dan Banu Muttolib. (Mazhab Syafie dan ulama2 lain)

2. Mereka adalah Banu Hashim sahaja. (Abu Hanifah, Malik dan al-Hadawiyah)

3. Mereka adalah Banu Muttalib sahaja. (Salah satu riwayat dlm mazhab Hambali)

4. Mereka adalah golongan Banu Hashim semasa Nabi s.a.w hidup sahaja. (Muhammad dari mazhab Hanafi)

Banu Hashim adalah Ahli keluarga ‘Aqil, ahli keluarga ‘Ali, ahli keluarga Ja’far, ahli keluarga al-Abbas dan ahli keluarga al-Hars.

Adakah mereka ini masih lagi tidak menerima zakat sekarang?

Pendapat Sh. Yusuf Qardawi

Aku berpendapat bahawa pendapat yg memberikan zakat kepada ahli keluarga Nabi s.a.w pada zaman sekarang adalah dibenarkan kerana mereka sekarang tidak mendapat satu perlima bahagian harta rampasan perang (ghanima dan fai’e) yg mana mereka telah memperolehinya di zaman Nabi s.a.w.

Rujukan: Feqhuz Zakat oleh Dr Yusuf Qardawi.